Maafkan Aku Meninggalkanmu

Dan Semua Telah Berakhir.

Kini tiada lagi sapaanmu di setiap pagiku.

Kau Nenden Rifkhy Erlyana Putri,

Sejak aku memutuskan untuk meninggalkanmu

Aku lebih sering menyebutmu dalam doaku

Agar kelak engkau dianugerahi oleh Sang Kuasa

Seorang pria yang lebih baik daripada aku

Yang lebih bisa menuntunmu berjalan lurus

Di atas jalanNya.

Rifkhy ft Didit: dan semua telah berakhir

dan semua telah berakhir

Aku memang terluka.

Tapi tak sedikitpun dendam terlahir dalam benakku,

Mungkin suatu saat kau akan bertanya

Untuk apa aku menempuh jalan ini.

Tapi percayalah aku tak pernah memilih

jalan untuk menyakitimu

Advertisements

Ternyata [yang Terkenal] Pare, Bukan Kediri

Hai, selamat pagi semua. Bagaimana matahari di tempat kalian hari ini? Semoga hati dan semangat kalian jauh lebih cerah dan lebih bersinar ๐Ÿ™‚

Tahu kah kalian kota Kediri? Itu loh kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan Tahu Tahwa, Gethuk Pisang,ย  Sambal Tumpang (menurut kepercayaan: kalau bukan orang Kediri gak ada yang demen ๐Ÿ˜€ ), kepercayaan bahwa setiap orang ‘besar’ yang masuk ke kediri dia akan kembali ke dirinya sendiri yang semula, dll.

Kemarin aku sms sama teman sesama penulis dari Purwokerto (terkenal dengan makanan khasnya mendoan dan nopia). Ketika aku memberitahu bahwa aku berasal dari Kediri. Seketika, yang terlintas dipikirannya pertama kali adalah Kampung Inggris yang terletak di Kabupaten Pare.

Dia berucap, “iyah tau mas, tau :p kediri yg kampung inggris kaan? eh pare maksudnya :p”

Ngenes banget kan penduduk kotanya ๐Ÿ˜ฆ

Tapi ketika menulis posting ini, aku tertegun membatu. Kota Kediri sudah punya apa dalam hal pendidikan dan teknologi ya?? Akhirnya aku membenarkan bahwa kota Kediri memang belum seberapa.

Tapi tunggu dulu. Antara Kediri yang belum punya apa-apa dan aku yang belum tahu apa-apa tentang kediri, aku tanya pada paman google tentang prestasi Kediri. dan ini lah hasilnya https://www.google.co.id/search?q=prestasi+kota+kediri&ie=utf-8&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a&channel=sb&gws_rd=cr&ei=9qGfU_OoHcKMuATLk4LIDg

Sekarang saatnya bagi generasi sekarang untuk menyuarakan prestasinya. Untuk menghargai perjuangan para pendahulu dan memotivasi generasi penerus. Mari Berprestasi! Mari Berkarya!

Pertemuan Kita Part I: (aku hanya bisa mengagumimu dalam diam)

Ada sebuah evenย  yang diadakan oleh Penerbit Mufaza. Event dalam bidang kepenulisan ini mengusung tema “Pertemuan Kita” yang terbagi menjadi 2 kategori, yaitu puisi dan cerpen. Yang mana persyaratan utamanya adalah karya berupa FTS atau Flash True Story (Kisah nyata yang ditulis secara singkat).

Yap, aku harus menggali kembali kenangan-kenangan tempoe doeloe. Oh, bukan. Bukan menggali, karena aku tak pernah menguburnya. Aku hanya perlu mengambilnya dari laci ingatanku. Membersihkannya dari kotoran dan debu-debu lupa. Lalu memolesnya dengan kata-kata indah sehingga aku bisa menuliskannya tanpa mengubah isinya.

Aku mengenang semua kembali tentang kita. Semua semampu yang kuingat. Aku tak tahu siapa yang lebih dahulu menyalakan lilin. Mungkin itu aku, mungkin pula itu kau. Aku menyetujui ajakan pertemananmu di jejaring sosial facebook. Itu adalah saat pertama kali aku menyimpan rasa padamu. Entahlah mungkin kagum atau apa. Diam-diam aku menyukaimu, iya, diam-diam. Karena aku tak bisa menghianati seseorang yang dengan tulus menyayangiku.

Usia berkurang, namun tidak rasaku padamu. Aku hanya bisa melihatmu di facebook. Mengagumimu tanpa seorang pun mengetahui. Aku telah berkali-kali mencoba mengubur rasa itu. — Kenapa? satu, karena aku telah memiliki wanita yang lain. Tapi jujur, parasmu justru jauh lebih bisa mengalihkan duniaku. Dua, aku merasa tak akan pernah bisa memilikimu. Kau terlalu sempurna bagiku. — Tapi aku tak pernah berhasil 100%

Kamu mengenalku dari sepupuku. Tapi semua harus dirahasiakan. Karena aku, bersama sahabat sejatinya. Aku juga merahasiakan rasaku. Karena aku, bersama seseorang yang tulus menyayangiku, waktu itu.

Setiap berusaha mengubur rasa itu. Mungkin aku berhasil. Tapi ketika kamu ada di dekatku, aku merasakan debaran yang dahsyat, di dada ini. Sering ketika aku membukakan pintu rumahku untukmu yang ingin menemui sepupuku, aku merasakan guncangan yang dahsyat. Ah, kau slalu menggetarkan hatiku.

Aku melihatmu secara pertama kali adalah ketika itu, selepas pengajian, di aula burengan. kau berjalan tanpa melihatku. dan aku mengagumimu tanpa kau ketahui. Hatiku tersenyum, namun juga sedih. “Oh, jadi ini yang namanya Nenden. Beruntung orang yang bisa memilikimu” kataku waktu itu dalam hati :’) Untuk selanjutnya seperti biasa; aku hanya bisa mengagumimu dalam diam.

2 Pesan Moral

Hari ini, aku belajar dari seorang Hanat Futuh Nihayah, teman facebook sekaligus rekan dunia literasi yang belum lama ini aku kenal. Dengan kata-kata sederhana darinya yang bagiku: aku butuh; aku belajar memperbaiki diri, membuka mata, dan kembali menerima bagian yang hilang. Ada 2 hal yang kuambil darinya hari ini (mungkin hari-hari berikutnya, aku mengambil pelajaran dari kalian):

1. dengan seksama dan penuh penghayatan

Ini adalah sepenggal dari kalimatnya yang kupangkas pada bagian yang kubutuhkan. Seperti kataku tadi: “kalimat sederhana”, cukup sederhana, bukan? Tapi penting, menurutku. Bagaimana bisa? Belakangan ini, karena terlalu mengejar membaca, aku lupa pada hakikat membaca dengan seksama dan penuh penghayatan. Yang kulakukan hanyalah membaca, membaca, membaca dan membaca. Hingga akhirnya, sebanyak apa pun aku membaca: aku tetaplah kosong, tak berisi, tak berarti. Aku ingin membaca banyak buku tentang banyak hal. Hingga aku lupa, bahwa butuh proses panjang yang memakan waktu untuk meningkatkan kualitas diri dengan membaca. Aku terlalu berambisi, hingga aku lupa untuk menikmati membaca dan membiarkan imajinasiku membentuk dunia yang telah dilukiskan oleh buku. Dengan seksama dan penuh penghayatan. Lebih baik membaca satu buku dan menguasai isinya daripada membaca seratus buku namun tidak memahaminya.

2. ditiadakan

Bagaimana ini bisa menjadi menarik? Yap! Waktu itu aku mengirimkan sebuah puisi padanya untuk kumintai penilaian.ย  Ada satu bait yang menurutnya, “kurang apa gitu atau bisa jadi ditiadakan saja”. Kubaca ulang puisiku. Kubaca sekali lagi dengan melewatkan bait tersebut. Yap! Hasilnya, lebih enak seperti itu. Bait tersebut memang terasa mengganjal dan bikin gak nyaman.

Pesan yang kuambil: tidak semua yang ingin kita sampaikan harus kita utarakan. (*eh, bukan begitu maksudku* *duh, gimana yaa* *tuh jadi bingung sendiri*) kadang kata-kata yang kita rancang dengan tujuan agar komplit, justeru membuat rancu. walaupun itu kalimat sudah dibuat sesusah-payah mungkin, maka jangan segan untuk membuangnya. Yang terpenting adalah bagaimana pesan tersebut dapat tersampaikan secara jelas.

Begitu pula bila orang yang selama ini kita kejar-kejar, kok ternyata malah menghambat perjalanan, maka dibuang saja ๐Ÿ˜€